Al Mujadalah Ayat 11
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟
فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا
تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
تَفَسَّحُوا۟ : فسَحَ لـ يَفْسَح : لَهُ فِي الْمَجْلِسِ :
وَسَّعَ لَهُ لِيَجْلِسَ
ٱنشُزُوا۟ : فِي مَكَانٍ نَشَازٍ :
فِي مَكَانٍ مُرْتَفِعٍ
Hai
orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.
Az Zumar Ayat 9
أمَّنْ
هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ
الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ
يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
قَانِتٌ: قنَتَ/ قنَتَ لـ:
دائم الطاعة لله تعالى
يَحْذَرُ:
مصدر: حذَّرَ:
تَنْبِيهاً، تَخْوِيفاً
يَرْجُو: م
: الرَّجَاءُ
: التَّوَسُّلُ
أُولُو
الْأَلْبَابِ : Orang-orang
yang mempunyai akal
(Apakah
kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di
waktuwaktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Asbab Nuzul Ayat
Surat Al-Mujadalah
Berkenaan
dengan turunnya ayat tersebut dapat diikuti keterangan yang diberikan oleh Ibn
Abi Khatim menurut riwayatnya yang diterima dari Muqatil bin Hibban, bahwa
―Pada hari jum‘at Nabi Muhammad SAW sedang berada di rumah persinggahannya yang
sempit, kala itu beliau sedang menjamu mujahid Badar dari kaum Muhajirin dan
Anshar, tiba-tiba datanglah sekelompok Mujahid Badar lainnya lainnya termasuk
Tsabit bin Qais bin Syamas, mereka berdesak-desakkan dalam majlis tersebut,
kemudian mereka berdiri agar dekat Nabi SAW, tetapi orang-orang sebelumnya yang
telah datang tidak memberi keluasan kepada mereka, hal tersebut membuat Nabi
SAW bersusah hati, maka beliau berkata pada orang di sekelilingnya dari selain
mujahid Badar, “Badar wahai fulan, dan kamu juga, berdirilah!‟ hal tersebut
membuat hati orang-orang yang diperintahkan berdiri kesal, Nabi pun mengetahui
kekesalan dari wajah mereka, maka hal ini dijadikan kesempatan bagi orang-orang
munafik untuk memfitnah beliau, mereka berkata, “Nabi tidak bertindak adil kepada
mereka”, padahal mereka senang bila
mendekat kepada beliau, maka Allah SWT menurunkan ayat تَفَسَّحُوا yaitu memberikan keluasan.
Ada
Riwayat yang menyatakan bahwa ayat di
atas turun pada hari Jum’at. Ketika
itu Rasul Saw berada di
suatu tempat yang sempit,
dan telah menjadi kebiasaan
beliau memberi tempat khusus untuk
para sahabat yang terlibat dalam perang
Badar, karena besarnya jasa mereka. Ketika majelis tengah
berlangsung, beberapa orang diantara sahabat-sahabat tersebut hadir, lalu mengucapkan salam kepada Nabi Saw. Nabipun menjawab, selanjutnya mengucapkan salam kepada
hadirin, yang juga dijawab, namun mereka tidak memberi tempat. Para
sahabat itu terus saja berdiri, maka Nabi memerintahkan kepada
sahabat-sahabatnya yang lain-yang tidak
terlibat dalam perang Badar untuk mengambil tempat lain agar para
sahabat yang berjasa itu duduk didekat Nabi
Perintah
Nabi itu mengecilkan hati mereka yang disuruh
berdiri, dan ini digunakan oleh kaum munafik untuk memecah belah dengan
berkata “Katanya Muhammad berlaku adil,
tetapi ternyata tidak”. Nabi mendengar kritik itu bersabda: “Allah merahmati
siapa yang memberi kelapangan bagi saudaranya”. Kaum beriman menyambut tuntunan
Nabi dan ayat diataspun turun mengukuhkan perintah dan sabda Nabi itu.
Dalam
tinjauan Tafsir Ibn Katsir Allah SWT berfirman untuk mendidik hamba-hamba-Nya
yang beriman dan seraya memerintahkan kepada mereka untuk saling bersikap baik
kepada sebagaian orang didalam majelis-majelis pertemuan.
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ
كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي
عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ
اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ
بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ
نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ
الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ
عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Dari
Abu Hurairah t, dari Rasulullah ﷺ bersabda : Siapa yang
menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia,
niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa
yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya
di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah
akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya
selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk
mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Dan tidaklah
suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan
mempelajarinya diantara mereka, melainkan niscaya as-sakinah (ketenangan) akan
turun atas mereka, rahmat menyelubungi mereka, para malaikat mengelilingi
mereka, dan Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan
dipercepat oleh nasabnya. [Muslim no. 2699]
Imam Ahmad danAsy-Syafi’i meriwayatkan dari Ibnu Umar
bahwa Rasulullah bersabda yang artinya, “Janganlah seseorang membangunkan
orang laindari tempat duduknya kemudian dia menempati tempat
duduk itu, tetapi hendaklah kalian
melapangkan dan meluaskannya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Imam
Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda “Tidak diperbolehkan bagi seseorang
untuk memisahkan (tempat duduk) antara dua orang kecuali dengan izin keduanya.
Dan apabila dikatakan: berdirilah kamu, maka berdirilah)” .Qatadah mengatakan
bahwa artinya jika kamu diseur pada kebaikan, maka hendaklah kamu
memenuhinya” .Sedangkan Muqatil
mengatakan jika kalian diperintahkan
untuk salat, maka kerjakanlah”. Maksudnya “orang-orang yang
beriman diantara kamudan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu)”.janganlah kalian
berkeyakinan bahwa jika
salah seorang diantara kalian
memberikan kelapangan kepada saudaranya, baik yang datang maupun yang akan pergi, bahwa itu akan
mengurangi haknya. Bahkan hal tersebut merupakan ketinggian dan
perolehan martabat disisi Allah. Allah tidak menyia-nyiakan hal tersebut, maka
Allah akan memberikan balasannya
baik didunia maupun di akhirat.
Sesungguhnya barangsiapa yang
merendahkan dirinya karena Allah,
maka Allah akan mengangkat derajatnya dan akan memasyhurkan namanya.
Sesungguhnya Allah mengangkat dengan
kitab ini(Al-Qur’an) suatu kaum
dan merendahkan dengannya
Sebagian yang lain. Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim
dari Az-Zuhri.
Surat Az-Zumar
Asbabun
nuzul adalah sebab-sebab ayat Al-Qur’an diturunkan. Adapun asbabun nuzul Surat
Az-Zumar Ayat 9 diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Umar bahwa amman
huwa qaanit… “(apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah
orang yang beribadah…” merupakan perkataan ‘Utsman bin ‘Affan. (yang selalu
bangun malam sujud kepada Allah).
Berdasarkan
riwayat Ibnu Sa’d dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu
‘Abbas, orang yang dimaksud dalam Surat Az-Zumar Ayat 9 adalah ‘Ammar bin
Yasir. Sementara itu, Juwaibir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa orang-orang
yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ibnu Mas’ud, ‘Ammar bin Yasir, dan
Salim, maulaa Abu Hudzaifah. Adapun riwayat Juwaibir yang bersumber dari
‘Ikrimah, menyatakan bahwa orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah
‘Ammar bin Yasir.
Nilai-nilai
Pendidikan yang Terdapat dalam Surat Al Mujadalah Ayat 11 dan Surat Az Zumar
ayat 9
Al Mujadalah ayat 11
Dalam konteks pendidikan
(tarbawi), maka hendaknya pendidik dan peserta didik harus:
- 1. Memiliki perencanaan dalam melaksanakan
proses pembelajaran.
- 2. Bersikap rendah hati dalam melaksanakan
proses belajar mengajar.
- 3. Patuh terhadap aturan dari guru.
- 4. Memiliki semangat dalam melaksanakan
tugas, baik sebagai pendidik dan atau pesertadidik
5. Nilai Pendidikan yang terkandung dalam
Surat Al Mujadalah ayat 11 yaitu:
Melapangkan hati,
Mengutamakan orang lain dalam majelis
ilmu. Dalam ayat tersebut
disebutkan tafassahu fil majaalis.
Arti asli dari fasaha adalah
luas, sehingga artinya bergeser agar tempat menjadi luas dan dapat diduduki oleh orang
lain. Dalam arti yang lebih luas, orang yang beriman dan berilmu
yang sejati akan memberikan pelayanan sebaik-baiknya dalam
pembelajaran.
Proaktif dan Produktif,
Proaktif artinya responsif (cepat tanggap)
terhadap amal shaleh. Produktif berarti melakukan amal shalih yang
bermutu secara kualitas dan berlimpah secara kuantitas, seperti misalnya
disiplin dalam waktu (tidak terlambat). Dalam konteks pendidikan,
pendidik dan peserta didik diharuskan
memiliki sifat proaktif atau
responsif dalam proses
pembelajaran.
Dengan proses belajar mengajar yang
baik dan berkualitas akan membawanya kepada kemuliaan dari Allah.
Sebagaimana dikatakan yarfa’illahu(niscaya Allah akan meninggikan),
tentunya melalui proses yang tidak instan atau sekejap, melainkan melalui
proses panjang, dan ilmu itu merupakan karunia dariAllah sesuai dengan
kehedak-Nya.
Isi kandung
Surat Al-Mujadilah Ayat
11 ini berhubugan
dengan etika dan
sopan santun pendidikan yakni:
1. Kajian Tekstual, dalam pandangan Al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan
yang menjadikan manusia unggul dan melebihi dari makhluk-makhluk lain guna
menjalankan kekhalifahan di mukabumi ini. Sementara itu,
manusia menurut Al-Qur’an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan
mengembangkannya dengan seizin Allah.
Berkali-kali Allah menunjukkan betapa
tinggi derajat dan
kedudukan orang-orang yang
memiliki ilmu pengetahuan.
2. Kajian Kontekstual, menginformasikan kepada
umat manusia bahwa ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk meraih ilmu pengetahuan,
diantaranya:
panca
indra dan akal yakni ada empat sarana yang dapat digunakan untuk memperoleh
ilmu, yaitu pendengaran, mata pengamatan, percobaan, dan probability (tes-tes
kemungkinan), dan akal (intellenc) dan pemikiran (reflection). Disamping mata, telinga,
dan pikiran sebagai sarana untuk meraih
pengetahuan. Al-Qur’an pun menggaris bawahi bagaimana pentingnya peran kesucian hati. Ilmu
pengetahuan akan mudah diraih dan dipahami dengan baik, apabila hati
seorang itu bersih.
Dari sinilah para ilmuan Muslim menerangkan pentingnya tazkiyatunnafs guna
memperoleh hidayahdan pengajaranserta bimbingan Allah.(3267-Article
Text-8537-1-10-20200901, n.d.)
Az
Zumar ayat 9
Nilai Pendidikan yang terkandung dalam
Surat Az-Zumar ayat 9 yaitu: Seorang
muslim harus dapat melakukan pengarahan terhadap perasaan dalam menjalankan
ketaatan agar tidak mengalami penyimpangan akidah.
Orang-orang
mukmin yang selalu senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Mereka
senantiasa mendirikan sholat malam dengan khusyu' seraya menghadirkan rasa
takut dan harap kepada Allah Swt sebagaimana dalam QS. Az-Zumar ayat 9 sebagai
berikut:
أمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ
سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
“(Apakah
kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat pada
waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhan-nya?........" (QS. Az-Zumar [39]:9)
Berdasarkan
penjelasan para mufassir menjelaskan bahwa Allah memberitahu melalui ayat ini
tidaklah sama orang musyrik yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah Swt
dengan orang-orang mukmin yang selalu senantiasa menjalankan ketaatan kepada
Allah Swt, orang mukmin mereka cemas dan khawatir terhadap akhirat serta takut
mendapatkan nilai rendah di sisi Allah Swt. berbeda halnya dengan orang musyrik
yang tidak takut terhadap perbuatan buruknya. Adanya rasa takut ini maka akan
menambahkan keimanan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.
Rasa
takut yang ada sejak lahir membuat seorang pendidik selaku orang tua dan guru
dapat menanamkan perasaan tersebut, seorang anak dapat diberikan pemahaman
berkaitan pemahaman akidah.Adapun pembinaan akidah tersebut menurut Al-Hulaiby
untuk menumbuhkan keimanan seorang anak dapat dilakukan melalui pembinaan
pengarahan terhadap perasaan yaitu sebagai berikut:
Rasa cinta, yaitu seorang anak yang
telah mengenal dan merasakan sebuah nikmat-nikmat dari Allah, rasa kecintaan
kepada Allah akan memotivasi seorang anak dalam menempuh jalan sesuai petunjuk
Allah. Rasa Takut, menanamkan rasa ini pendidik bisa memperkenalkan Allah
melalui sifat-sifat Allah seperti halnya Mahakuasaannya dan lain sebagainya.
Rasa Khusyu’, yaitu
perasaan ini merupakan perasaan selalu patuh dan menghamba kepada-Nya, perasaan
ini merupakan buah dari menghadirkan rasa takut. Adanya kagum terhadap
bukti-bukti kekuasan Allah Swt. Hal ini akan menumbuhkan rasa khusyu’ dan rasa
ini dapat menumbuhkan keimanan. Rasa pengagungan, rasa ini dapat dihadirkan
dengan mengajak anak dapat dikenali kalimat tasbih dan mengajarkan bacaan
sholat seperti halnya dalam ruku, sujud, dan iftitah.
Manusia harus menjadi seseorang yang Ulul
Albab (orang-orang yang berfikir) dapat mengetahui akidah yang benar agar tidak
mengalami penyimpangan. Islam memerintahkan kita untuk mempergunakan akal untuk
berfikir,memiliki kecerdasan akal, mentadaburi segalanya, memetik segala
berbagai pelajaran yang ada. Sebagaimana pada QS. Az-Zumar ayat 9 di bawah ini:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ
يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“........Katakanlah,
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran. (QS. Az-Zumar [39]:9)
Ayat
9 dalam QS. Az-Zumar ini menunjukan bahwa orang mukmin tersebut memiliki
kecerdasan spiritual yaitu orang-orang yang berusaha berfikir memiliki
kemampuan kalbunya yang peka, sadar, untuk memahami hakikat dibalik lahiriah
dan mempelajari makna atau mengambil hikmah dari suatu peristiwa yang telah
terjadi.
Hal
yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik yaitu guru atau orang tua harus
dapat mengajarkan kepada anak merekauntuk senantiasa menjadi orang yang
memiliki kecerdasan dalam berfikir, seorang anak yang baru lahir tidak mengetahui apa-apa, dapat dimulai
dengan pemberian pemahaman-pemaham berkaitan akidah kepada anak, memperkenalkan
kalimat tauhid kepada anak, setelah anak beranjak pada usia remaja maka akan
terbukanya fikiran untuk berfikir luas secara abstrak.
Sebagai
seorang pendidik yaitu guru atau orang tua sudah sepatutnya sebelum mereka
mengajarkan akidah kepada Anak, pendidim harus lebih dulu dahulu paham dengan
baik mengenai akidah yang benar yaitu akidah islam. Untuk melakukan pembinaan
akidah melalui pembinaan pemikiran maka Al-Hulaiby menjelaskan pembinaan
berfikir menurut Al-Hulaiby dapat dilakukan sebagai berikut :
Penjagaan
wawasan pengetahuan lingkungan, Adapun pembinaannya dapat dilakukan sebagai
berikut:
- 1. Memberitahukan informasi yang benar dan
memberitahu pengalaman yang lurus
- 2. Memberitahu kepada anak cara-cara berfikir
yang benar untuk mengatasi masalah atau menyelesaikannya kepada hakikat
kebenaran sesuai dengan al- qur’an
- 3. Memurnikan iklim dari segala bentuk
pemikiran yang dapat merusak pemikiran. D. memberikan kesempatan kepada untuk
mengaplikasikan pemikiran ilmiahnya.
- 4. Merangsang perhatian anak agar dapat berfikir
mengenai fenomena alam.
- 5. Pengajaran dan sarana-sarananya
- 6. Mengajarkan kepada anak agar menjadikan
akidah sebagai hal yang utama di setiap menerima sebuah informasi yang
diterimanya.
- 7. Melakukan sebuah perencanaan untuk
membangkitkan akal sang anak.
- 8. Pemberian perhatian terhadap pertanyaan
dan jawaban dari pertanyaan tersebut. D. mengajak menghubungkan sesuatu dengan
dalil naqli agar terbebas dari taklid.
- 9. Membaca dan menghafal al-qur’an.
- 10. Mengajak anak untuk belajar membaca
al-qur’an dan menghafalnya, membantu anak agar dapat pemikirannya mengarah agar
merenungkan ayat-ayat serta dapat mencermatimakhluk dan alam semesta yang
menarik perhatiannya
- 11. Melakukan penelitian dan pengamatan logis
terhadap makhluk-makhluk allah swt.
- 12. Melalui pengamatan-pengamatan tersebut
maka anak dapat diajak untuk berfikir dan orang tua dapat memberikan pemahaman
mengenai dalil-dalil penciptaan, dalil-dalil pemeliharaan, dan dalil-dalil
tentang kemahakuasaan-nya.
Kesimpulan
Islam
mengutamakan pendidikan yang berlandaskan pada tauhid, dan juga menanamkan
pendidikan keimanan dan karakater peserta didik. Pembinaan akidah dilakukan
untuk membuat seseorang kuat dalam beriman, agar seseorang tidak goyah dalam
segala kondisi, dapat membentengi diri dari segala pengaruh yang datang dari
luar. Pembinaan akidah dapat dilakukan sejak dalam kandungan yaitu dengan
mengucapkan kalimat tauhid. Pembinaan akidah merupakan pembinaan syari’at
islam, dalam pembinaanya maka didasari dengan sumber pertama yaitu al-qur’an.
Berkenaan
dengan turunnya ayat tersebut dapat diikuti keterangan yang diberikan oleh Ibn
Abi Khatim menurut riwayatnya yang diterima dari Muqatil bin Hibban, bahwa
―Pada hari jum‘at Nabi Muhammad SAW sedang berada di rumah persinggahannya yang
sempit, kala itu beliau sedang menjamu mujahid Badar dari kaum Muhajirin dan
Anshar, tiba-tiba datanglah sekelompok Mujahid Badar lainnya lainnya termasuk
Tsabit bin Qais bin Syamas, mereka berdesak-desakkan dalam majlis tersebut,
kemudian mereka berdiri agar dekat Nabi SAW, tetapi orang-orang sebelumnya yang
telah datang tidak memberi keluasan kepada mereka, hal tersebut membuat Nabi
SAW bersusah hati, maka beliau berkata pada orang di sekelilingnya dari selain
mujahid Badar, “Badar wahai fulan, dan kamu juga, berdirilah!‟ hal tersebut
membuat hati orang-orang yang diperintahkan berdiri kesal, Nabi pun mengetahui
kekesalan dari wajah mereka, maka hal ini dijadikan kesempatan bagi orang-orang
munafik untuk memfitnah beliau, mereka berkata, “Nabi tidak bertindak adil kepada
mereka”, padahal mereka senang bila
mendekat kepada beliau, maka Allah SWT menurunkan ayat تَفَسَّحُوا yaitu memberikan keluasan.
Ada
Riwayat yang menyatakan bahwa ayat di
atas turun pada hari Jum’at. Ketika
itu Rasul Saw berada di
suatu tempat yang sempit,
dan telah menjadi kebiasaan
beliau memberi tempat khusus untuk
para sahabat yang terlibat dalam perang
Badar, karena besarnya jasa mereka. Ketika majelis tengah
berlangsung, beberapa orang diantara sahabat-sahabat tersebut hadir, lalu mengucapkan salam kepada Nabi Saw. Nabipun menjawab, selanjutnya mengucapkan salam kepada
hadirin, yang juga dijawab, namun mereka tidak memberi tempat. Para
sahabat itu terus saja berdiri, maka Nabi memerintahkan kepada
sahabat-sahabatnya yang lain-yang tidak
terlibat dalam perang Badar untuk mengambil tempat lain agar para
sahabat yang berjasa itu duduk didekat Nabi
Perintah
Nabi itu mengecilkan hati mereka yang disuruh
berdiri, dan ini digunakan oleh kaum munafik untuk memecah belah dengan
berkata “Katanya Muhammad berlaku adil,
tetapi ternyata tidak”. Nabi mendengar kritik itu bersabda: “Allah merahmati
siapa yang memberi kelapangan bagi saudaranya”. Kaum beriman menyambut tuntunan
Nabi dan ayat diataspun turun mengukuhkan perintah dan sabda Nabi itu.
Dalam
tinjauan Tafsir Ibn Katsir Allah SWT berfirman untuk mendidik hamba-hamba-Nya
yang beriman dan seraya memerintahkan kepada mereka untuk saling bersikap baik
kepada sebagaian orang didalam majelis-majelis pertemuan.
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ
كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي
عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ
اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ
بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ
نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ
الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ
عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Dari Abu Hurairah t, dari Rasulullah ﷺ bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, melainkan niscaya as-sakinah (ketenangan) akan turun atas mereka, rahmat menyelubungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya. [Muslim no. 2699]
Imam Ahmad danAsy-Syafi’i meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda yang artinya, “Janganlah seseorang membangunkan orang laindari tempat duduknya kemudian dia menempati tempat duduk itu, tetapi hendaklah kalian melapangkan dan meluaskannya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda “Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk memisahkan (tempat duduk) antara dua orang kecuali dengan izin keduanya. Dan apabila dikatakan: berdirilah kamu, maka berdirilah)” .Qatadah mengatakan bahwa artinya jika kamu diseur pada kebaikan, maka hendaklah kamu memenuhinya” .Sedangkan Muqatil mengatakan jika kalian diperintahkan untuk salat, maka kerjakanlah”. Maksudnya “orang-orang yang beriman diantara kamudan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu)”.janganlah kalian berkeyakinan bahwa jika salah seorang diantara kalian memberikan kelapangan kepada saudaranya, baik yang datang maupun yang akan pergi, bahwa itu akan mengurangi haknya. Bahkan hal tersebut merupakan ketinggian dan perolehan martabat disisi Allah. Allah tidak menyia-nyiakan hal tersebut, maka Allah akan memberikan balasannya baik didunia maupun di akhirat. Sesungguhnya barangsiapa yang merendahkan dirinya karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan akan memasyhurkan namanya. Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini(Al-Qur’an) suatu kaum dan merendahkan dengannya Sebagian yang lain. Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Az-Zuhri.
Asbabun nuzul adalah sebab-sebab ayat Al-Qur’an diturunkan. Adapun asbabun nuzul Surat Az-Zumar Ayat 9 diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Umar bahwa amman huwa qaanit… “(apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah…” merupakan perkataan ‘Utsman bin ‘Affan. (yang selalu bangun malam sujud kepada Allah).
Berdasarkan
riwayat Ibnu Sa’d dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu
‘Abbas, orang yang dimaksud dalam Surat Az-Zumar Ayat 9 adalah ‘Ammar bin
Yasir. Sementara itu, Juwaibir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa orang-orang
yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ibnu Mas’ud, ‘Ammar bin Yasir, dan
Salim, maulaa Abu Hudzaifah. Adapun riwayat Juwaibir yang bersumber dari
‘Ikrimah, menyatakan bahwa orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah
‘Ammar bin Yasir.
Nilai-nilai Pendidikan yang Terdapat dalam Surat Al Mujadalah Ayat 11 dan Surat Az Zumar ayat 9
Al Mujadalah ayat 11
Dalam konteks pendidikan
(tarbawi), maka hendaknya pendidik dan peserta didik harus:
- 1. Memiliki perencanaan dalam melaksanakan
proses pembelajaran.
- 2. Bersikap rendah hati dalam melaksanakan
proses belajar mengajar.
- 3. Patuh terhadap aturan dari guru.
- 4. Memiliki semangat dalam melaksanakan
tugas, baik sebagai pendidik dan atau pesertadidik
5. Nilai Pendidikan yang terkandung dalam
Surat Al Mujadalah ayat 11 yaitu:
Melapangkan hati,
Mengutamakan orang lain dalam majelis
ilmu. Dalam ayat tersebut
disebutkan tafassahu fil majaalis.
Arti asli dari fasaha adalah
luas, sehingga artinya bergeser agar tempat menjadi luas dan dapat diduduki oleh orang
lain. Dalam arti yang lebih luas, orang yang beriman dan berilmu
yang sejati akan memberikan pelayanan sebaik-baiknya dalam
pembelajaran.
Proaktif dan Produktif,
Proaktif artinya responsif (cepat tanggap)
terhadap amal shaleh. Produktif berarti melakukan amal shalih yang
bermutu secara kualitas dan berlimpah secara kuantitas, seperti misalnya
disiplin dalam waktu (tidak terlambat). Dalam konteks pendidikan,
pendidik dan peserta didik diharuskan
memiliki sifat proaktif atau
responsif dalam proses
pembelajaran.
Dengan proses belajar mengajar yang baik dan berkualitas akan membawanya kepada kemuliaan dari Allah. Sebagaimana dikatakan yarfa’illahu(niscaya Allah akan meninggikan), tentunya melalui proses yang tidak instan atau sekejap, melainkan melalui proses panjang, dan ilmu itu merupakan karunia dariAllah sesuai dengan kehedak-Nya.
Isi kandung
Surat Al-Mujadilah Ayat
11 ini berhubugan
dengan etika dan
sopan santun pendidikan yakni:
1. Kajian Tekstual, dalam pandangan Al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan
yang menjadikan manusia unggul dan melebihi dari makhluk-makhluk lain guna
menjalankan kekhalifahan di mukabumi ini. Sementara itu,
manusia menurut Al-Qur’an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan
mengembangkannya dengan seizin Allah.
Berkali-kali Allah menunjukkan betapa
tinggi derajat dan
kedudukan orang-orang yang
memiliki ilmu pengetahuan.
2. Kajian Kontekstual, menginformasikan kepada
umat manusia bahwa ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk meraih ilmu pengetahuan,
diantaranya:
panca indra dan akal yakni ada empat sarana yang dapat digunakan untuk memperoleh ilmu, yaitu pendengaran, mata pengamatan, percobaan, dan probability (tes-tes kemungkinan), dan akal (intellenc) dan pemikiran (reflection). Disamping mata, telinga, dan pikiran sebagai sarana untuk meraih pengetahuan. Al-Qur’an pun menggaris bawahi bagaimana pentingnya peran kesucian hati. Ilmu pengetahuan akan mudah diraih dan dipahami dengan baik, apabila hati seorang itu bersih. Dari sinilah para ilmuan Muslim menerangkan pentingnya tazkiyatunnafs guna memperoleh hidayahdan pengajaranserta bimbingan Allah.(3267-Article Text-8537-1-10-20200901, n.d.)
Az
Zumar ayat 9
Nilai Pendidikan yang terkandung dalam
Surat Az-Zumar ayat 9 yaitu: Seorang
muslim harus dapat melakukan pengarahan terhadap perasaan dalam menjalankan
ketaatan agar tidak mengalami penyimpangan akidah.
Orang-orang
mukmin yang selalu senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Mereka
senantiasa mendirikan sholat malam dengan khusyu' seraya menghadirkan rasa
takut dan harap kepada Allah Swt sebagaimana dalam QS. Az-Zumar ayat 9 sebagai
berikut:
أمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ
سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
“(Apakah
kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat pada
waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhan-nya?........" (QS. Az-Zumar [39]:9)
Berdasarkan
penjelasan para mufassir menjelaskan bahwa Allah memberitahu melalui ayat ini
tidaklah sama orang musyrik yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah Swt
dengan orang-orang mukmin yang selalu senantiasa menjalankan ketaatan kepada
Allah Swt, orang mukmin mereka cemas dan khawatir terhadap akhirat serta takut
mendapatkan nilai rendah di sisi Allah Swt. berbeda halnya dengan orang musyrik
yang tidak takut terhadap perbuatan buruknya. Adanya rasa takut ini maka akan
menambahkan keimanan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.
Rasa
takut yang ada sejak lahir membuat seorang pendidik selaku orang tua dan guru
dapat menanamkan perasaan tersebut, seorang anak dapat diberikan pemahaman
berkaitan pemahaman akidah.Adapun pembinaan akidah tersebut menurut Al-Hulaiby
untuk menumbuhkan keimanan seorang anak dapat dilakukan melalui pembinaan
pengarahan terhadap perasaan yaitu sebagai berikut:
Rasa cinta, yaitu seorang anak yang
telah mengenal dan merasakan sebuah nikmat-nikmat dari Allah, rasa kecintaan
kepada Allah akan memotivasi seorang anak dalam menempuh jalan sesuai petunjuk
Allah. Rasa Takut, menanamkan rasa ini pendidik bisa memperkenalkan Allah
melalui sifat-sifat Allah seperti halnya Mahakuasaannya dan lain sebagainya.
Rasa Khusyu’, yaitu
perasaan ini merupakan perasaan selalu patuh dan menghamba kepada-Nya, perasaan
ini merupakan buah dari menghadirkan rasa takut. Adanya kagum terhadap
bukti-bukti kekuasan Allah Swt. Hal ini akan menumbuhkan rasa khusyu’ dan rasa
ini dapat menumbuhkan keimanan. Rasa pengagungan, rasa ini dapat dihadirkan
dengan mengajak anak dapat dikenali kalimat tasbih dan mengajarkan bacaan
sholat seperti halnya dalam ruku, sujud, dan iftitah.
Manusia harus menjadi seseorang yang Ulul
Albab (orang-orang yang berfikir) dapat mengetahui akidah yang benar agar tidak
mengalami penyimpangan. Islam memerintahkan kita untuk mempergunakan akal untuk
berfikir,memiliki kecerdasan akal, mentadaburi segalanya, memetik segala
berbagai pelajaran yang ada. Sebagaimana pada QS. Az-Zumar ayat 9 di bawah ini:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ
يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“........Katakanlah,
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran. (QS. Az-Zumar [39]:9)
Ayat
9 dalam QS. Az-Zumar ini menunjukan bahwa orang mukmin tersebut memiliki
kecerdasan spiritual yaitu orang-orang yang berusaha berfikir memiliki
kemampuan kalbunya yang peka, sadar, untuk memahami hakikat dibalik lahiriah
dan mempelajari makna atau mengambil hikmah dari suatu peristiwa yang telah
terjadi.
Hal
yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik yaitu guru atau orang tua harus
dapat mengajarkan kepada anak merekauntuk senantiasa menjadi orang yang
memiliki kecerdasan dalam berfikir, seorang anak yang baru lahir tidak mengetahui apa-apa, dapat dimulai
dengan pemberian pemahaman-pemaham berkaitan akidah kepada anak, memperkenalkan
kalimat tauhid kepada anak, setelah anak beranjak pada usia remaja maka akan
terbukanya fikiran untuk berfikir luas secara abstrak.
Sebagai
seorang pendidik yaitu guru atau orang tua sudah sepatutnya sebelum mereka
mengajarkan akidah kepada Anak, pendidim harus lebih dulu dahulu paham dengan
baik mengenai akidah yang benar yaitu akidah islam. Untuk melakukan pembinaan
akidah melalui pembinaan pemikiran maka Al-Hulaiby menjelaskan pembinaan
berfikir menurut Al-Hulaiby dapat dilakukan sebagai berikut :
Penjagaan
wawasan pengetahuan lingkungan, Adapun pembinaannya dapat dilakukan sebagai
berikut:
- 1. Memberitahukan informasi yang benar dan
memberitahu pengalaman yang lurus
- 2. Memberitahu kepada anak cara-cara berfikir
yang benar untuk mengatasi masalah atau menyelesaikannya kepada hakikat
kebenaran sesuai dengan al- qur’an
- 3. Memurnikan iklim dari segala bentuk
pemikiran yang dapat merusak pemikiran. D. memberikan kesempatan kepada untuk
mengaplikasikan pemikiran ilmiahnya.
- 4. Merangsang perhatian anak agar dapat berfikir
mengenai fenomena alam.
- 5. Pengajaran dan sarana-sarananya
- 6. Mengajarkan kepada anak agar menjadikan
akidah sebagai hal yang utama di setiap menerima sebuah informasi yang
diterimanya.
- 7. Melakukan sebuah perencanaan untuk
membangkitkan akal sang anak.
- 8. Pemberian perhatian terhadap pertanyaan
dan jawaban dari pertanyaan tersebut. D. mengajak menghubungkan sesuatu dengan
dalil naqli agar terbebas dari taklid.
- 9. Membaca dan menghafal al-qur’an.
- 10. Mengajak anak untuk belajar membaca
al-qur’an dan menghafalnya, membantu anak agar dapat pemikirannya mengarah agar
merenungkan ayat-ayat serta dapat mencermatimakhluk dan alam semesta yang
menarik perhatiannya
- 11. Melakukan penelitian dan pengamatan logis
terhadap makhluk-makhluk allah swt.
- 12. Melalui pengamatan-pengamatan tersebut
maka anak dapat diajak untuk berfikir dan orang tua dapat memberikan pemahaman
mengenai dalil-dalil penciptaan, dalil-dalil pemeliharaan, dan dalil-dalil
tentang kemahakuasaan-nya.
Kesimpulan
Islam
mengutamakan pendidikan yang berlandaskan pada tauhid, dan juga menanamkan
pendidikan keimanan dan karakater peserta didik. Pembinaan akidah dilakukan
untuk membuat seseorang kuat dalam beriman, agar seseorang tidak goyah dalam
segala kondisi, dapat membentengi diri dari segala pengaruh yang datang dari
luar. Pembinaan akidah dapat dilakukan sejak dalam kandungan yaitu dengan
mengucapkan kalimat tauhid. Pembinaan akidah merupakan pembinaan syari’at
islam, dalam pembinaanya maka didasari dengan sumber pertama yaitu al-qur’an.
Komentar
Posting Komentar