Langsung ke konten utama

SURAT AL-MUJADALAH AYAT 11 DAN AZ-ZUMAR AYAT 9, SERTA RELEVANSI DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

Al Mujadalah Ayat 11

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

تَفَسَّحُوا۟ : فسَحَ لـ يَفْسَح : لَهُ فِي الْمَجْلِسِ : وَسَّعَ لَهُ لِيَجْلِسَ

ٱنشُزُوا۟ : فِي مَكَانٍ نَشَازٍ : فِي مَكَانٍ مُرْتَفِعٍ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Az Zumar Ayat 9

أمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

قَانِتٌ: قنَتَ/ قنَتَ لـ: دائم الطاعة لله تعالى

يَحْذَرُ: مصدر: حذَّرَ: تَنْبِيهاً، تَخْوِيفاً

يَرْجُو: م : الرَّجَاءُ : التَّوَسُّلُ

أُولُو الْأَلْبَابِ : Orang-orang yang mempunyai akal

 (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktuwaktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Asbab Nuzul Ayat

Surat Al-Mujadalah

Berkenaan dengan turunnya ayat tersebut dapat diikuti keterangan yang diberikan oleh Ibn Abi Khatim menurut riwayatnya yang diterima dari Muqatil bin Hibban, bahwa ―Pada hari jum‘at Nabi Muhammad SAW sedang berada di rumah persinggahannya yang sempit, kala itu beliau sedang menjamu mujahid Badar dari kaum Muhajirin dan Anshar, tiba-tiba datanglah sekelompok Mujahid Badar lainnya lainnya termasuk Tsabit bin Qais bin Syamas, mereka berdesak-desakkan dalam majlis tersebut, kemudian mereka berdiri agar dekat Nabi SAW, tetapi orang-orang sebelumnya yang telah datang tidak memberi keluasan kepada mereka, hal tersebut membuat Nabi SAW bersusah hati, maka beliau berkata pada orang di sekelilingnya dari selain mujahid Badar, “Badar wahai fulan, dan kamu juga, berdirilah!‟ hal tersebut membuat hati orang-orang yang diperintahkan berdiri kesal, Nabi pun mengetahui kekesalan dari wajah mereka, maka hal ini dijadikan kesempatan bagi orang-orang munafik untuk memfitnah beliau, mereka berkata, “Nabi tidak bertindak adil kepada mereka”,  padahal mereka senang bila mendekat kepada beliau, maka Allah SWT menurunkan ayat تَفَسَّحُوا yaitu memberikan keluasan.

Ada Riwayat yang menyatakan  bahwa ayat di atas turun pada hari Jum’at.  Ketika itu  Rasul Saw berada  di  suatu  tempat yang  sempit,  dan telah  menjadi kebiasaan beliau  memberi tempat khusus untuk para  sahabat yang terlibat dalam perang Badar, karena besarnya jasa mereka. Ketika majelis  tengah  berlangsung,  beberapa  orang diantara sahabat-sahabat tersebut  hadir, lalu mengucapkan salam  kepada Nabi Saw. Nabipun menjawab,  selanjutnya mengucapkan  salam kepada  hadirin, yang juga dijawab, namun mereka tidak memberi tempat. Para sahabat itu terus saja berdiri, maka Nabi memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya yang lain-yang tidak  terlibat dalam perang Badar untuk mengambil tempat lain agar para sahabat yang berjasa itu duduk didekat Nabi

Perintah Nabi itu mengecilkan hati mereka yang disuruh  berdiri, dan ini digunakan oleh kaum munafik untuk memecah belah dengan berkata “Katanya Muhammad  berlaku adil, tetapi ternyata tidak”. Nabi mendengar kritik itu bersabda: “Allah merahmati siapa yang memberi kelapangan bagi saudaranya”. Kaum beriman menyambut tuntunan Nabi dan ayat diataspun turun mengukuhkan perintah dan sabda Nabi itu.

Dalam tinjauan Tafsir Ibn Katsir Allah SWT berfirman untuk mendidik hamba-hamba-Nya yang beriman dan seraya memerintahkan kepada mereka untuk saling bersikap baik kepada sebagaian orang didalam majelis-majelis pertemuan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :  مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Dari Abu Hurairah t, dari Rasulullah   bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, melainkan niscaya as-sakinah (ketenangan) akan turun atas mereka, rahmat menyelubungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa  yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya. [Muslim no. 2699]

Imam Ahmad danAsy-Syafi’i meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda yang artinya, “Janganlah seseorang  membangunkan  orang  laindari  tempat duduknya kemudian dia menempati tempat duduk itu, tetapi hendaklah kalian  melapangkan  dan  meluaskannya.” (H.R.  Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah Saw  bersabda “Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk memisahkan (tempat duduk) antara dua orang kecuali dengan izin keduanya. Dan apabila dikatakan: berdirilah kamu, maka berdirilah)” .Qatadah mengatakan bahwa artinya jika kamu diseur pada kebaikan, maka hendaklah  kamu  memenuhinya” .Sedangkan  Muqatil mengatakan jika  kalian  diperintahkan  untuk salat,  maka  kerjakanlah”. Maksudnya “orang-orang yang beriman diantara kamudan orang-orang yang diberi ilmu  pengetahuan beberapa derajat.  Dan Allah Maha Mengetahui  segala sesuatu)”.janganlah  kalian  berkeyakinan bahwa jika  salah  seorang diantara kalian memberikan kelapangan kepada saudaranya, baik yang datang  maupun yang akan pergi, bahwa  itu akan  mengurangi haknya. Bahkan hal tersebut merupakan ketinggian dan perolehan martabat disisi Allah. Allah tidak menyia-nyiakan hal tersebut, maka Allah akan memberikan balasannya    baik    didunia maupun di akhirat. Sesungguhnya  barangsiapa  yang  merendahkan dirinya karena  Allah, maka  Allah akan mengangkat  derajatnya dan akan memasyhurkan namanya. Sesungguhnya  Allah mengangkat  dengan  kitab ini(Al-Qur’an)  suatu  kaum  dan  merendahkan  dengannya  Sebagian yang lain. Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Az-Zuhri. 

  Surat Az-Zumar

    Asbabun nuzul adalah sebab-sebab ayat Al-Qur’an diturunkan. Adapun asbabun nuzul Surat Az-Zumar Ayat 9 diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Umar bahwa amman huwa qaanit… “(apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah…” merupakan perkataan ‘Utsman bin ‘Affan. (yang selalu bangun malam sujud kepada Allah).

    Berdasarkan riwayat Ibnu Sa’d dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, orang yang dimaksud dalam Surat Az-Zumar Ayat 9 adalah ‘Ammar bin Yasir. Sementara itu, Juwaibir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa orang-orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ibnu Mas’ud, ‘Ammar bin Yasir, dan Salim, maulaa Abu Hudzaifah. Adapun riwayat Juwaibir yang bersumber dari ‘Ikrimah, menyatakan bahwa orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ‘Ammar bin Yasir.

Nilai-nilai Pendidikan yang Terdapat dalam Surat Al Mujadalah Ayat 11 dan Surat Az Zumar ayat 9

Al Mujadalah ayat 11

Dalam konteks pendidikan (tarbawi), maka hendaknya pendidik dan peserta didik harus:

  • 1.     Memiliki perencanaan dalam melaksanakan proses pembelajaran.
  • 2.     Bersikap rendah hati dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
  • 3.     Patuh terhadap aturan dari guru.
  • 4.     Memiliki semangat dalam melaksanakan tugas, baik sebagai pendidik dan atau pesertadidik

5.     Nilai Pendidikan yang terkandung dalam Surat Al Mujadalah ayat 11 yaitu:

Melapangkan hati, Mengutamakan orang lain  dalam  majelis  ilmu.  Dalam ayat tersebut disebutkan tafassahu fil majaalis.  Arti asli dari fasaha adalah  luas, sehingga  artinya  bergeser agar tempat  menjadi luas dan dapat diduduki oleh orang lain. Dalam arti yang lebih luas, orang yang beriman dan  berilmu  yang  sejati akan  memberikan pelayanan sebaik-baiknya dalam pembelajaran.

 

Proaktif dan Produktif, Proaktif artinya responsif (cepat tanggap)   terhadap amal shaleh. Produktif berarti melakukan amal shalih yang bermutu  secara kualitas dan berlimpah  secara kuantitas, seperti  misalnya  disiplin dalam waktu (tidak terlambat). Dalam konteks pendidikan, pendidik dan peserta didik diharuskan  memiliki sifat proaktif atau  responsif  dalam proses pembelajaran.

Dengan  proses belajar mengajar  yang  baik dan berkualitas akan membawanya kepada kemuliaan dari Allah. Sebagaimana dikatakan yarfa’illahu(niscaya Allah akan meninggikan), tentunya melalui proses yang tidak instan atau sekejap, melainkan melalui proses panjang, dan ilmu itu merupakan karunia dariAllah sesuai dengan kehedak-Nya.

Isi   kandung   Surat   Al-Mujadilah  Ayat  11  ini  berhubugan  dengan  etika  dan  sopan  santun pendidikan yakni:

1.     Kajian Tekstual, dalam  pandangan Al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul dan melebihi dari makhluk-makhluk lain guna menjalankan kekhalifahan  di  mukabumi ini. Sementara  itu,  manusia menurut Al-Qur’an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya  dengan seizin Allah. Berkali-kali Allah menunjukkan betapa  tinggi  derajat  dan  kedudukan  orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

2.     Kajian Kontekstual,    menginformasikan    kepada    umat manusia bahwa ada beberapa alat yang dapat  digunakan untuk meraih ilmu pengetahuan, diantaranya:

panca indra dan akal yakni ada empat sarana yang dapat digunakan untuk memperoleh ilmu, yaitu pendengaran, mata pengamatan, percobaan, dan probability (tes-tes kemungkinan), dan akal (intellenc) dan pemikiran (reflection). Disamping mata,  telinga,  dan pikiran sebagai  sarana  untuk meraih   pengetahuan. Al-Qur’an   pun   menggaris bawahi bagaimana     pentingnya peran kesucian hati. Ilmu pengetahuan akan mudah diraih dan dipahami dengan baik, apabila  hati  seorang  itu  bersih.  Dari sinilah  para  ilmuan Muslim    menerangkan    pentingnya tazkiyatunnafs guna memperoleh   hidayahdan   pengajaranserta   bimbingan Allah.(3267-Article Text-8537-1-10-20200901, n.d.)

Az Zumar ayat 9

      Nilai Pendidikan yang terkandung dalam Surat Az-Zumar  ayat 9 yaitu: Seorang muslim harus dapat melakukan pengarahan terhadap perasaan dalam menjalankan ketaatan agar tidak mengalami penyimpangan akidah.

Orang-orang mukmin yang selalu senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Mereka senantiasa mendirikan sholat malam dengan khusyu' seraya menghadirkan rasa takut dan harap kepada Allah Swt sebagaimana dalam QS. Az-Zumar ayat 9 sebagai berikut:

أمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat pada waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhan-nya?........" (QS. Az-Zumar [39]:9)

Berdasarkan penjelasan para mufassir menjelaskan bahwa Allah memberitahu melalui ayat ini tidaklah sama orang musyrik yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah Swt dengan orang-orang mukmin yang selalu senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Swt, orang mukmin mereka cemas dan khawatir terhadap akhirat serta takut mendapatkan nilai rendah di sisi Allah Swt. berbeda halnya dengan orang musyrik yang tidak takut terhadap perbuatan buruknya. Adanya rasa takut ini maka akan menambahkan keimanan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.

Rasa takut yang ada sejak lahir membuat seorang pendidik selaku orang tua dan guru dapat menanamkan perasaan tersebut, seorang anak dapat diberikan pemahaman berkaitan pemahaman akidah.Adapun pembinaan akidah tersebut menurut Al-Hulaiby untuk menumbuhkan keimanan seorang anak dapat dilakukan melalui pembinaan pengarahan terhadap perasaan yaitu sebagai berikut:

            Rasa cinta, yaitu seorang anak yang telah mengenal dan merasakan sebuah nikmat-nikmat dari Allah, rasa kecintaan kepada Allah akan memotivasi seorang anak dalam menempuh jalan sesuai petunjuk Allah. Rasa Takut, menanamkan rasa ini pendidik bisa memperkenalkan Allah melalui sifat-sifat Allah seperti halnya Mahakuasaannya dan lain sebagainya.

           

Rasa Khusyu’, yaitu perasaan ini merupakan perasaan selalu patuh dan menghamba kepada-Nya, perasaan ini merupakan buah dari menghadirkan rasa takut. Adanya kagum terhadap bukti-bukti kekuasan Allah Swt. Hal ini akan menumbuhkan rasa khusyu’ dan rasa ini dapat menumbuhkan keimanan. Rasa pengagungan, rasa ini dapat dihadirkan dengan mengajak anak dapat dikenali kalimat tasbih dan mengajarkan bacaan sholat seperti halnya dalam ruku, sujud, dan iftitah.

 

Manusia harus menjadi seseorang yang Ulul Albab (orang-orang yang berfikir) dapat mengetahui akidah yang benar agar tidak mengalami penyimpangan. Islam memerintahkan kita untuk mempergunakan akal untuk berfikir,memiliki kecerdasan akal, mentadaburi segalanya, memetik segala berbagai pelajaran yang ada. Sebagaimana pada QS. Az-Zumar ayat 9 di bawah ini:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

 

“........Katakanlah, "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar [39]:9)

Ayat 9 dalam QS. Az-Zumar ini menunjukan bahwa orang mukmin tersebut memiliki kecerdasan spiritual yaitu orang-orang yang berusaha berfikir memiliki kemampuan kalbunya yang peka, sadar, untuk memahami hakikat dibalik lahiriah dan mempelajari makna atau mengambil hikmah dari suatu peristiwa yang telah terjadi.

Hal yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik yaitu guru atau orang tua harus dapat mengajarkan kepada anak merekauntuk senantiasa menjadi orang yang memiliki kecerdasan dalam berfikir, seorang anak yang baru lahir  tidak mengetahui apa-apa, dapat dimulai dengan pemberian pemahaman-pemaham berkaitan akidah kepada anak, memperkenalkan kalimat tauhid kepada anak, setelah anak beranjak pada usia remaja maka akan terbukanya fikiran untuk berfikir luas secara abstrak.

Sebagai seorang pendidik yaitu guru atau orang tua sudah sepatutnya sebelum mereka mengajarkan akidah kepada Anak, pendidim harus lebih dulu dahulu paham dengan baik mengenai akidah yang benar yaitu akidah islam. Untuk melakukan pembinaan akidah melalui pembinaan pemikiran maka Al-Hulaiby menjelaskan pembinaan berfikir menurut Al-Hulaiby dapat dilakukan sebagai berikut :

Penjagaan wawasan pengetahuan lingkungan, Adapun pembinaannya dapat dilakukan sebagai berikut:

  • 1.     Memberitahukan informasi yang benar dan memberitahu pengalaman yang lurus
  • 2.     Memberitahu kepada anak cara-cara berfikir yang benar untuk mengatasi masalah atau menyelesaikannya kepada hakikat kebenaran sesuai dengan al- qur’an
  • 3.     Memurnikan iklim dari segala bentuk pemikiran yang dapat merusak pemikiran. D. memberikan kesempatan kepada untuk mengaplikasikan pemikiran ilmiahnya.
  • 4.     Merangsang perhatian anak agar dapat berfikir mengenai fenomena alam.
  • 5.     Pengajaran dan sarana-sarananya
  • 6.     Mengajarkan kepada anak agar menjadikan akidah sebagai hal yang utama di setiap menerima sebuah informasi yang diterimanya.
  • 7.     Melakukan sebuah perencanaan untuk membangkitkan akal sang anak.
  • 8.     Pemberian perhatian terhadap pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan tersebut. D. mengajak menghubungkan sesuatu dengan dalil naqli agar terbebas dari taklid.
  • 9.     Membaca dan menghafal al-qur’an.
  • 10.  Mengajak anak untuk belajar membaca al-qur’an dan menghafalnya, membantu anak agar dapat pemikirannya mengarah agar merenungkan ayat-ayat serta dapat mencermatimakhluk dan alam semesta yang menarik perhatiannya
  • 11.  Melakukan penelitian dan pengamatan logis terhadap makhluk-makhluk allah swt.
  • 12.  Melalui pengamatan-pengamatan tersebut maka anak dapat diajak untuk berfikir dan orang tua dapat memberikan pemahaman mengenai dalil-dalil penciptaan, dalil-dalil pemeliharaan, dan dalil-dalil tentang kemahakuasaan-nya.

 

Kesimpulan

Islam mengutamakan pendidikan yang berlandaskan pada tauhid, dan juga menanamkan pendidikan keimanan dan karakater peserta didik. Pembinaan akidah dilakukan untuk membuat seseorang kuat dalam beriman, agar seseorang tidak goyah dalam segala kondisi, dapat membentengi diri dari segala pengaruh yang datang dari luar. Pembinaan akidah dapat dilakukan sejak dalam kandungan yaitu dengan mengucapkan kalimat tauhid. Pembinaan akidah merupakan pembinaan syari’at islam, dalam pembinaanya maka didasari dengan sumber pertama yaitu al-qur’an.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Teori Psiko-Spiritual dalam Bimbingan Penyuluhan Agama

Pengertian penyuluh agama sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 791 tahun 1985 adalah pembimbing umat beragama dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa. Sedangkan yang dimaksud dengan penyuluh Agama Islam, yaitu pembimbing umat Islam dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, serta menjabarkan segala aspek pembangunan melalui pintu dan bahasa agama. Sejak semula penyuluh agama berperan sebagai pembimbing umat. Dengan rasa tanggung jawab tinggi, mereka membawa masyarakat kepada kehidupan yang aman dan sejahtera.  Penyuluh agama ditokohkan oleh masyarakat bukan karena penunjukan atau pemilihan, apalagi diangkat tangan suatu keputusan, akan tetapi dengan sendirinya menjadi pemimpin masyarakat karena kewibawaannya    (Aep Kusnawan, 2011) . Spiritualitas merupakan bentuk sifat dari kata spirit (ekuivalen dengan ‘ruh’) yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sesu...

MEMBUMIKAN PEMIKIRAN, TAPAK JEJAK KEADILAN BUYA SYAFI’I MA’ARIF

     Indonesia, dengan keragaman budaya dan keberagaman agama yang kaya, telah melahirkan tokoh-tokoh cemerlang yang membawa perubahan signifikan dalam sejarah dan peradaban bangsa. Di atas panggung sejarah Indonesia, salah satu sosok yang bersinar terang adalah Buya Syafii Maarif, seorang intelektual Islam yang meninggalkan jejak keadilan yang mendalam. Kisah hidupnya bukan sekadar kisah perjalanan seorang akademisi atau pemikir, melainkan sebuah narasi yang memadukan kecerdasan intelektual dengan semangat keadilan yang membara. Dari perjalanan hidupnya, banyak pembelajaran yang bisa dipetik, menjadi seorang individu yang mampu membumikan pemikiran, menjadikan keadilan sebagai pusat perjuangan, serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang kuat dalam setiap langkahnya.       Riak-riak sejarah yang mempermainkan bayangan dan nyata, ada sosok yang teguh berdiri sebagai penjaga api keadilan dan pencerahan pemikiran. Buya Syafii Maarif, seorang ...