Langsung ke konten utama

Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Siswa yang Mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD)

 

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan moral peserta didik. Sebagai salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan, PAI bertujuan untuk membangun kesadaran spiritual, etika, dan sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Namun, tantangan dalam proses pembelajaran sering kali muncul, terutama ketika dihadapkan pada siswa dengan kebutuhan khusus, termasuk mereka yang mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD). 

NPD merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa harga diri yang berlebihan, kebutuhan akan perhatian, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Siswa dengan NPD mungkin menunjukkan perilaku yang menantang, seperti dominasi dalam interaksi, sensitivitas terhadap kritik, dan kecenderungan untuk mengabaikan kebutuhan atau perasaan orang lain. Kasus ini adalah pengalaman pribadi penulis yang mempunya teman dengan kondisi seperti ini.  Kondisi ini dapat memengaruhi dinamika pembelajaran di kelas, termasuk proses internalisasi nilai-nilai agama yang menekankan kasih sayang, keadilan, dan kebersamaan. 

Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang efektif dan inklusif untuk membantu siswa dengan NPD dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam. Pendekatan ini tidak hanya melibatkan adaptasi metode pengajaran, tetapi juga pemahaman mendalam tentang karakteristik siswa dengan NPD. Dengan strategi yang tepat, diharapkan siswa dapat mengembangkan empati, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual yang menjadi inti dari ajaran Islam. 

Makalah ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran PAI yang relevan bagi siswa dengan NPD, mencakup pendekatan psikologis, pedagogis, dan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi pendidik dalam menghadapi tantangan ini serta berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan transformatif. 

Indikator Kasus

Indikator Perilaku: Siswa ini adalah salah satu Snatri yang aktif dan pintar, tak hanya itu ia juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di pondok pesantren, namun salah satu kekurangannya adalah merasa dirinya selalu benar dan merasa ingin dihormati, bahkan oleh gurunya sendiri.

Dari sikapnya yang seperti itu menjadikannya di jauhi teman dan banyak orang yang tidak suka dengannya, walaupun ia pintar, dengan kesombongannya ia selalu ingin menang sendiri dan tak mau kalah jika ada teman lain yang bisa sesuatu (mencakup kegiatan di pondok). Perilaku narsistik merupakan gangguan psikologis karena orang cenderung memiliki narsisme yang berlebihan sehingga memiliki ego yang tinggi. Selain itu, mereka menganggap dirinya lebih dari yang lain, hanya berfokus pada keberhasilan dirinya, dan tidak memiliki simpati. Mereka juga berusaha berpenamilan dan berperilaku semenarik mungkin untuk mendapatkan perhatian dari orang lain (Aurilio et al., n.d.)

Sifatnya yang keras kepala dan ingin merasa selalu di hormati tidak hanya sampai di kalangan santri, bahkan di kalangan guru-guru ia sudah di cap seperti itu, bahkan ia juga sudah pernah beberapa kali di panggil oleh kepala pengasuhan untuk di rehabilitasi, namun hasilnya nihil, ia malah melakukan playing victim dan menyalahkan teman-teman yang ada disekitarnya.

Kemungkinan Penyebab: disini saya dapat menyimpulkan penyebab yang terjadi atas perilakunya yaitu:

1.    Anak Broken Home dan Ibu sudah menikah lebih dari 3 kali, sehingga mempunyai adik tiri lebih dari satu dengan bapak yang berbeda, menjadikannya kurang kasih sayang sosok ayah. Didikan orang tua yang kurang, di rumah dia tidak hanya dididik oleh ibunya saja, namun banyak saudara dan memungkinkan ia mengikuti salah satu sifat dari saudaranya.

3.    Faktor Lingkungan: Ia hanya tinggal di lingkungan sekitar saudaranya dan jarang main dengan Masyarakat sekitar, jadi, Ketika di pondok dengan banyak orang dengan banyak sifat, ia merasa ingin dimanja dan ingin dihormati. Kernberg dan Kohut awalnya memperkenalkan NPD pada akhir tahun 1960-an. Kernberg (1975) dan Kohut (1971) mendefinisikan NPD sebagai struktur diri patologis yang ditandai dengan perkembangan transferensi yang abnormal. Mereka menggambarkan narsisis sebagai individu yang mengembangkan persepsi diri yang muluk-muluk karena hubungan sosial yang tidak memuaskan di masa kanak-kanak yang mengakibatkan ketergantungan psikologis yang kompleks pada orang lain di masa dewasa (Ngwu & Chawla, n.d.)

Bagaimana Strategi Guru PAI dalam Menghadapi masalah tersebut?

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menanganai gangguan kepribadian narsistik. Salah satu diantaranya adalah dengan melatih diri agar bisa mengontorol dan mengendalikan motif-motif emosi yang mengarah pada sikap dan perilaku narsistik.

Oleh karena itu perlu dilakukan pengamatan terhadap perilaku individu terhadap orang lain untuk mengetahui motif munculnya perilaku tersebut berasal dari motif narsistik atau bukan. Di sisi lain, dapat dilakukan dengan melatih diri bersiukap empati terhadap orang lain dan membiasakan diri melihat sikap, perilaku serta masalah yang dialami dari sudut pandang orang lain.

(Fausiah, F & Widury (Sari, 2021)menjelaskan bahwa ada beberapa proses yang dapat dilakukan untuk menangani gangguan kepribadian narsistik belum bersifat kronis, yaitu :

a. Melatih diri memandang orang lain secara positif. Dalam kontek ini, individu dilatih agar memilik pendangan dan keyakina bahwa orang lain memiliki kelebihan dan keistimewaan.

b. Selalu mengambil hikmah dan pelajaran dari sikap dan perilaku yang ditampilkan.

c. Bersikap dan berprilaku sederhana secara porposional agar terhindar dari prangkap hedonisme.

d. Melatih diri bersikap rendah hati. Hal ini dapat dilakukan dengan cara belajar dari pengalaman orang lain, membaca buku serta melakukan evaluasi terhadap sikap dan perilaku yang telah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

e. Koreksi terhadap ucapan, prilaku dan sikap yang muncul dalam diri yang mengandung kesombongan, hal ini bisa muncul direnungkan.

Strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menghadapi santri dengan kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD) memerlukan pendekatan yang holistik, sabar, dan penuh empati. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memahami latar belakang psikologis dan emosional santri tersebut. Guru PAI harus menciptakan suasana belajar yang kondusif dan tidak memicu rasa kompetitif yang berlebihan, melainkan mendorong kolaborasi serta nilai-nilai kebersamaan. Pendekatan personal, seperti sesi bimbingan individu, dapat digunakan untuk membangun hubungan yang lebih dekat, sehingga santri merasa didengar dan dihargai.

Selain itu, strategi pengajaran berbasis nilai-nilai Islami seperti tawadhu' (rendah hati), ukhuwah (persaudaraan), dan keikhlasan dapat dijadikan acuan dalam menyusun materi pelajaran. Guru dapat memberikan contoh nyata melalui kisah-kisah dalam Al-Qur’an dan Hadis yang menggambarkan pentingnya sikap rendah hati dan menghormati orang lain. Teknik pembelajaran berbasis proyek atau tugas kelompok juga dapat membantu santri belajar menghargai kontribusi orang lain dan menumbuhkan empati.

Penting pula untuk melibatkan pihak lain, seperti kepala pengasuhan, konselor, dan orang tua, untuk memastikan pendekatan yang konsisten di pondok pesantren maupun di rumah. Terakhir, guru PAI dapat memberikan motivasi positif dengan menekankan penghargaan atas sikap baik yang ditunjukkan santri, sehingga ia lebih termotivasi untuk mengubah perilaku tanpa merasa disalahkan atau dihakimi. Dengan strategi yang tepat, diharapkan santri ini dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan mampu berinteraksi dengan baik di lingkungan sosialnya.

Lingkungan Pendukung dan Penghambat Keberhasilan Guru PAI untuk Kasus NPD

Dalam menghadapi siswa dengan karakteristik Narcissistic Personality Disorder (NPD), guru Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu menerapkan strategi yang komprehensif dan berbasis pada pendekatan psikologis serta nilai-nilai Islami. Pertama, guru dapat membangun hubungan yang empatik dengan siswa, memberikan perhatian yang tulus tanpa memperkuat perilaku narsistiknya. Guru juga harus menanamkan nilai-nilai kerendahan hati melalui teladan dan pembelajaran berbasis pengalaman, seperti melibatkan siswa dalam kegiatan sosial yang mengajarkan kerja sama dan empati.(Weinberg & Ronningstam, 2022)

Kedua, guru perlu menerapkan pembelajaran yang mendorong refleksi diri. Siswa didorong untuk memahami dampak perilaku mereka terhadap orang lain melalui diskusi atau kisah-kisah Islami yang relevan. Penggunaan metode diskusi dan pemecahan masalah dapat membantu siswa belajar menghargai pendapat orang lain serta mengembangkan pengendalian diri. Selain itu, guru juga harus menciptakan batasan yang tegas dan konsisten terhadap perilaku yang tidak sesuai, sambil tetap memberikan dorongan positif pada upaya siswa untuk berubah.

Keberhasilan guru PAI dalam menangani kasus siswa dengan NPD sangat bergantung pada dukungan lingkungan sekitar. Lingkungan pendukung meliputi komunitas pesantren yang inklusif, dukungan dari guru-guru lain, serta kerja sama dengan orang tua atau wali untuk memberikan pendekatan yang seragam dalam mendidik siswa. Adanya konseling psikologis yang tersedia di pesantren juga dapat menjadi pendukung penting, membantu siswa memahami dan mengatasi masalah mereka secara lebih mendalam.

Namun, terdapat pula faktor penghambat yang perlu diatasi. Lingkungan yang kurang kondusif, seperti kurangnya pemahaman guru dan teman-teman terhadap kondisi siswa, dapat memperburuk isolasi sosial yang dirasakan siswa. Selain itu, latar belakang keluarga yang tidak harmonis dan kurangnya dukungan emosional di rumah dapat menjadi tantangan tambahan bagi guru dalam membantu siswa. Oleh karena itu, kolaborasi antara pesantren, keluarga, dan profesional psikologi menjadi kunci utama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan positif pada siswa.


 Reference:

Aurilio, F. L., Isolawati, I., Nazira Nurshafa, J., & Khairina, N. (n.d.). Analisis Dampak Perilaku Narsistik pada Kesehatan Mental Remaja. Jurnal Flourishing, 3(11), 478–485. https://doi.org/10.17977/10.17977/um070v3i112023p478-485

Ngwu, D. C., & Chawla, S. (n.d.). Narcissistic Personality Disorder: Understanding the Origins and Causes, Consequences, Coping Mechanisms, and Therapeutic Approaches. https://doi.org/10.31080/ECPP.2023.13.01134

Sari, D. P. (2021). Gangguan Kepribadian Narsistik dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Mental. Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 5(1), 93. https://doi.org/10.29240/jbk.v5i1.2633

Weinberg, I., & Ronningstam, E. (2022). Narcissistic Personality Disorder: Progress in Understanding and Treatment. Focus, 20(4), 368–377. https://doi.org/10.1176/appi.focus.20220052

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT AL-MUJADALAH AYAT 11 DAN AZ-ZUMAR AYAT 9, SERTA RELEVANSI DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

Al Mujadalah Ayat 11 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ تَفَسَّحُوا۟ : فسَحَ لـ يَفْسَح : لَهُ فِي الْمَجْلِسِ : وَسَّعَ لَهُ لِيَجْلِسَ ٱنشُزُوا۟ : فِي مَكَانٍ نَشَازٍ : فِي مَكَانٍ مُرْتَفِعٍ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Az Zumar Ayat 9 أمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا ي َحْذَر ُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ ...

Mengenal Teori Psiko-Spiritual dalam Bimbingan Penyuluhan Agama

Pengertian penyuluh agama sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 791 tahun 1985 adalah pembimbing umat beragama dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa. Sedangkan yang dimaksud dengan penyuluh Agama Islam, yaitu pembimbing umat Islam dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, serta menjabarkan segala aspek pembangunan melalui pintu dan bahasa agama. Sejak semula penyuluh agama berperan sebagai pembimbing umat. Dengan rasa tanggung jawab tinggi, mereka membawa masyarakat kepada kehidupan yang aman dan sejahtera.  Penyuluh agama ditokohkan oleh masyarakat bukan karena penunjukan atau pemilihan, apalagi diangkat tangan suatu keputusan, akan tetapi dengan sendirinya menjadi pemimpin masyarakat karena kewibawaannya    (Aep Kusnawan, 2011) . Spiritualitas merupakan bentuk sifat dari kata spirit (ekuivalen dengan ‘ruh’) yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sesu...

MEMBUMIKAN PEMIKIRAN, TAPAK JEJAK KEADILAN BUYA SYAFI’I MA’ARIF

     Indonesia, dengan keragaman budaya dan keberagaman agama yang kaya, telah melahirkan tokoh-tokoh cemerlang yang membawa perubahan signifikan dalam sejarah dan peradaban bangsa. Di atas panggung sejarah Indonesia, salah satu sosok yang bersinar terang adalah Buya Syafii Maarif, seorang intelektual Islam yang meninggalkan jejak keadilan yang mendalam. Kisah hidupnya bukan sekadar kisah perjalanan seorang akademisi atau pemikir, melainkan sebuah narasi yang memadukan kecerdasan intelektual dengan semangat keadilan yang membara. Dari perjalanan hidupnya, banyak pembelajaran yang bisa dipetik, menjadi seorang individu yang mampu membumikan pemikiran, menjadikan keadilan sebagai pusat perjuangan, serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang kuat dalam setiap langkahnya.       Riak-riak sejarah yang mempermainkan bayangan dan nyata, ada sosok yang teguh berdiri sebagai penjaga api keadilan dan pencerahan pemikiran. Buya Syafii Maarif, seorang ...